Harapan Mensinergikan Pariwisata dan Pertanian di Bali

Harapan mensinergiskan pariwisata dengan pertanian jauh panggang dari api. Tahun 2006, investasi di sektor pertanian hanya 0,37 persen, sedangkan sektor pariwisata 94 persen. Sisanya 5,63 persen sektor industri. Sektor pertanian makin terdesak dan terpinggirkan. KATA lainnya yakni pemerintah kurang berpihak pada sektor pertanian. Terbukti jumlah kredit yang dikucurkan secara nasional pada sektor pertanian tahun 2000 paling kecil 6,2 persen, jasa 37,4 persen, industri 34,2 persen, perdagangan 14,4 persen, sisanya 7,8 persen dialokasikan ke sektor lain dari total kredit Rp 320,4 triliun. Kondisi ini benar-benar timpang. Padahal mati-hidupnya bangsa ini sangat tergantung dari pertanian.
 
Laju perkembangan pariwisata yang demikian pesat di Bali justru membuat pertanian makin terdesak dan terpinggirkan. Banyak lahan sawah yang subur dicaplok untuk dijadikan hotel, vila atau bangunan.
Selama sepuluh tahun (1997-1998) terjadi penyusutan lahan 10.150 hektar. Kini sektor yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Bali tengah menghadapi ancaman dan tantangan makin serius.
Generasi muda mulai meninggalkan pertanian, peminat menjadi tenaga ahli spesialis pertanian makin menurun. Bahkan, sejumlah dinas pertanian yang diharapkan menampung tenaga kerja mereka justru akan digabung menjadi satu.
Dari sekian banyak masalah pertanian, maka ancaman terbesar yang dihadapi Bali adalah alih fungsi lahan sawah untuk pemanfaatan nonpertanian sebagaimana disampaikan Nyoman Sutawan. Mantan Rektor Unud ini mengingatkan kalau langkah alih fungsi lahan dibiarkan terus tanpa kendali, maka agenda strategis penyelamatan pertanian dari kehancuran tak akan ada manfaatnya.
Selanjutnya kedua, yang perlu diselamatkan struktur dan fungsi kelembagaan usaha tani, terutama terkait dengan pengelolaan air. Menurut pakar subak ini, perlu dialog intensif antara lembaga dan antar-stakeholder sehingga menjadi sebuah keputusan politik. Pengelolaan pertanian dan air di Bali sangat berbeda dibandingkan daerah lain. Air bagi masyarakat Hindu di Bali dipandang memiliki fungsi kultural dan religius yang lebih besar dari sekadar fungsi ekonomi, sosial dan lingkungan. Keberadaan sedahan agung agar dihidupkan lagi atau direvitalisasi menyesuaikan peranan kembali sesuai Perda 2/1972 tentang Irigasi. Tugas lembaga ini lebih fokus pada pembinaan subak, bukan sekadar mengumpulkan pajak bumi dan bangunan. Strategi lain adalah pemberian subsidi harga output, terutama beras, seperti yang dilakukan oleh Jepang. Strategi dukungan output ini belum pernah dilakukan di Indonesia. Di Jepang, pemerintah membeli hasil panen petani dengan harga tinggi sehingga petani bergairah berproduksi. Namun di pasar petani dapat membeli beras dengan harga yang lebih rendah dari harga jual pemerintah. Kebijakan dukungan harga ini bertujuan melindungi petani sebagai produsen dan juga konsumen. Dengan dukungan output tersebut kesenjangan ekonomi antara penduduk desa dan kota dapat dikurangi. Melalui strategi ini Jepang mampu memberi makan rakyatnya tanpa harus menjadi negara tergantung pada impor beras.
 
Strategi revitalisasi pertanian lain yang ditawarkan Sandi Adnyana adalah konservasi sumber daya alam. Sebab, Bali menghadapi permasalahan sumber daya air sangat serius. Debit sungai dan mata air menurun. Mata air di Gebagan Bangli yang dijadikan sumber air PDAM Bangli sudah tak berair lagi. Menurunnya air Danau Buyan dan Tamblingan. Meningkatkan masalah kelangkaan air untuk irigasi, bahkan hampir di semua kabupaten di Bali.
 
Kasus yang menonjol di Jembrana dan Tabanan. Dulunya sebagai daerah dengan sumber daya air melimpah, kini sudah tergolong krisis air untuk irigasi. Dampak dari persoalan tersebut adalah konflik di masyarakat dalam berebut air. Selain itu kualitas air terus menurun karena pencemaran sumber air khususnya air sungai dan danau, sehingga potensi yang ada kurang bisa dimanfaatkan.
 
Kearifan Lokal
 
Untuk itu daerah resapan air Bali di Bali Tengah khususnya dari Pupuan sampai Kintamani harus diselamatkan. Begitu pula dataran tinggi di tengah-tengah Pulau Bali yang merupakan rangkaian gunung dan lereng yang curam, harus diselamatkan terutama dari erosi dan kerusakan tanahnya. Jadi secara fisik daerah resapan air bagi Bali yang peka kerusakan harus dilindungi. Apalagi fungsinya sangat vital sebagai daerah konservasi.
Konsep penyelamatan berdasarkan kearifan lokal, harus melindungi bagian luan (hulu). Apabila bagian hulu rusak, maka akan berpengaruh terhadap daerah teben (hilir). Bagaimana daerah resapan air di kawasan Bedugul? Berdasarkan analisis foto udara dan citra satelit Ikonos tahun 2003 di daerah tangkapan air Danau Beratan, Buyan dan Tamblingan sejak 1981-2003 terjadi penambahan areal pemukiman 62,6 hektar. Tegalan 7,5 ha dan semak 26,2 ha. Akibatnya kebun kopi berkurang 116,2 ha dan hutan berkurang 32,5 ha. Peningkatan areal pemukiman disebabkan adanya pembangunan hotel dan vila baru. Bahkan, ada hotel yang dibangun pada kemiringan cukup curam. Padahal seharusnya lahan tersebut dijadikan kawasan penyangga. Sementara strategi revitalisasi pertanian di Bali seharusnya dengan menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Artinya, secara ekonomi fisibel, penggunaan teknologi sepadan, tak merusak lingkungan dan secara sosial budaya diterima. Strategi revitalisasi itu hampir sama dengan yang ditawarkan Dr. Ir. N. Rai, M.S. bahwa dinamisasi sektor pertanian harus mengacu pada kearifan lokal dengan orientasi pertanian modern. Strategi kearifan lokal Tri Hita Karana menuntut pemanfaatan dan pengelolaan pertanian harus bijaksana demi kesejahteraan umat dan harus dijaga kelestariannya demi generasi kini dan generasi akan datang. Sedangkan untuk menyeimbangkan investasi sektor pariwisata dan pertanian, menuntut adanya kemauan kuat investor yang menginvestasikan modalnya di sektor pariwisata bersedia menginvestasikan sejumlah tertentu dari keuntungan yang diperolehnya untuk mengembangkan sektor pertanian.
 

Dari segi teknologi, teknologi budi daya diarahkan pada upaya pengembangan teknologi berbasis sumber daya lokal. Ini penting karena kecenderungan pertanian ke depan menekankan sumber daya lokal berbasis organik dan partisipatori petani. Artinya, petani menjadi kunci pengembangan teknologi. Namun untuk memelekkan petani, menurut Gede Suyatna, diperlukan pendidikan penyadaran kritis dengan sistem pendampingan bekerja bersama petani dan bukan bekerja untuk petani yang dibantu lembaga pendidikan. Sebagai makhluk yang berpikir kritis, aktualisasi dalam bentuk usaha kreatif untuk mengembangkan dirinya.