Bali

Bali dengan masyarakat dan budaya yang unik dipastikan bukanlah satu wilayah migrasi yang baru tumbuh. Keseharian masyarakat Bali dengan budaya yang senantiasa menampilkan warna budaya lokal menunjukkan bahwa perjalanan Bali telah melewati alur sejarah yang panjang. Berbagai temuan arkeologi di berbagai wilayah Bali membuktikan perjalanan panjang Pulau Bali berbarengan dengan wilayah dan negara lain.

Sebagaimana dengan wilayah lain di Nusantara, masa-masa awal kehidupan bermasyarakat di Bali dikelompokkan sebagai jaman pra sejarah. Pada masa pra sejarah ini tidak ditemukan catatan-catatan yang menggambarkan tatanan kehidupan bermasyarakat. Yang menjadi acuan adalah temuan berbagai peralatan yang dipergunakan sebagai sarana menopang kelangsungan hidup manusia Bali ketika itu.

Dari berbagai temuan masa pra sejarah itu, jaman pra sejarah Bali - sebagaimana dengan kebanyakan wilayah lain - meliputi tiga babak tingkatan budaya. Lapis pertama adalah masa kehidupan yang bertumpu pada budaya berburu. Secara alamiah, berburu adalah cara mempertahankan kelangsungan hidup yang amat jelas dan mudah dilakukan. Dengan alat-alat sederhana dari bahan batu, yang peninggalannya ditemukan di daerah Sembiran di Bali utara dan wilayah Batur, manusia Bali diperkirakan mampu bertahan hidup. Peninggalan peralatan sejenis yang lebih baik, dengan menggunakan bahan tulang, ditemukan pula di gua Selonding di daerah Bulit, Badung Selatan. Ini menunjukkan bahwa masa berburu melewati masa cukup panjang disertai dengan peningkatan pola pikir yang makin baik.

Bali berpredikat kawasan KLB (Kejadian Luar Biasa) Rabies

Saat ini Bali sudah menjadi kawasan KLB (Kejadian Luar Biasa) Rabies setelah ada beberapa kejadian meninggal dunia akibat terjangkit virus ini.
Hal ini tidak dapat dianggap remeh. Berbagai usaha harus dilakukan agar predikat ini segera dapat dihapuskan.
Langkah-langkah seperti vaksinasi harus segera dilakukan dengan lebih intensif tidak hanya sebatas wacana. Ancaman ini bagaimanapun akan mempengaruhi kehidupan dan penghidupan masyarakat Bali.

 

Bali Krisis Air

Bali sebagai pulau yang rawan amblesan dan terancam tenggelam jika fenomena pemanasan global makin kuat, mestinya melakukan berbagai gerakan peduli lingkungan. Dalam konteks yang lebih riil, Bali harus melakukan pembatasan yang lebih jelas dalam pengelolaan air bawah tanah (ABT). Hal mendesak yang perlu dilakukan Bali dalam penyelamatan tata guna air, termasuk manjaga sumber mata airnya adalah membudayakan gerakan hemat air. Langkah ini bisa dimulai dengan berbagai aksi nyata dengan melakukan proteksi terhadap kawasan hulu dan menyetop penyedotan ABT.

Pengorbanan

Persembahan atau pengorbanan berhubungan dengan dengan karakter asli dari para pemuja. Berdasarkan hal ini ada tiga klasifikasi persembahan atau pengorbanan.

Persembahan yang dilakukan dengan kaidah-kaidah suci oleh rang-orang yang tak mengingingkan suatu imbalan dan percaya dengan teguh hati, bahwa persembahan atau pengorban itu wajib maka prsembahan semacam ini disebut pengorbanan bersifat Sattvik.
Persembahan atau pengorbanan yang dipersembahkan dengan maksud untuk mendapatkan suatu imbalan atau demi pertunjukkan belaka, maka persembahan atau pengorbanan itu hanya bersifat rajasik atau penuh nafsu
Persembahan yang tidak sesuai kaidah-kaidah suci, dimana tak ada makanan yang dibagikan, tak ada mantra-mantra yang diucapkan atau tak ada hadiah yang dibagikan, pengorbanan semcama ini bersifat tamasik (gelap).

 

Sumber: Bhagawadgita

Lestarikan Budaya Bali Tanggungjawab Orang Bali

SERBUAN budaya asing ke Bali patut menjadi perhatian kita semua. Seruan itu sudah lama didengungkan. Dibangunnya pusat kebudayaan seperti Ardha Candra Denpasar, juga dalam rangka melindungi budaya Bali.

Tentu tidak cukup hanya dibangun Taman Budaya. Kegiatan-kegiatan yang meramaikan taman Budaya mesti juga dilakukan. Jangan sampai taman budaya hanya ramai saat pesta kesenian Bali. Setelah itu seperti karang suwung; sepi tak ada kegiatan budaya atau berkesenian.

Kini di tengah serbuan wisatawan asing, domestik maupun pendatang ke Bali akan memberi dampak langsung kepada keteguhan budaya Bali. Hilangnya sawah-sawah di Denpasar- Badung dan diganti dengan mall, ruko, perumahan dan hotel akan memberi andil terkikisnya budaya Bali dan mulai masuknya budaya luar.

Weda Sumber Ajaran Agama Hindu

 Pengertian Weda 

Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda, yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Weda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa.

Weda secara ethimologinya berasal dari kata "Vid" (bahasa sansekerta), yang artinya mengetahui atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab Suci Weda dikenal pula dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda adalah wahyu yang diterima melalui pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Juga disebut kitab mantra karena memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan demikian yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa.

Kecamatan Mengwi

 I Gusti Agung Putu adalah putra dari I Gusti Agung Anom. Beliau bergelar I Gusti Agung Made Agung mendirikan kerajaan Mengwi dan menjadi Raja Mengwi I pada tahun 1723, sebelum menjadi Raja, I Gusti Agung Putu di tawan dan dibesarkan di Kerajaan Marga kemudian oleh Raja Marga I Gusti Balangan diberikan bimbingan spiritual, sehingga I Gusti Agung Putu diberikan sebidang tanah untuk mendirikan Kerajaan/Puri pertamanya di Desa Peken dengan nama Puri Balayu.

Harapan Mensinergikan Pariwisata dan Pertanian di Bali

Harapan mensinergiskan pariwisata dengan pertanian jauh panggang dari api. Tahun 2006, investasi di sektor pertanian hanya 0,37 persen, sedangkan sektor pariwisata 94 persen. Sisanya 5,63 persen sektor industri. Sektor pertanian makin terdesak dan terpinggirkan. KATA lainnya yakni pemerintah kurang berpihak pada sektor pertanian. Terbukti jumlah kredit yang dikucurkan secara nasional pada sektor pertanian tahun 2000 paling kecil 6,2 persen, jasa 37,4 persen, industri 34,2 persen, perdagangan 14,4 persen, sisanya 7,8 persen dialokasikan ke sektor lain dari total kredit Rp 320,4 triliun. Kondisi ini benar-benar timpang. Padahal mati-hidupnya bangsa ini sangat tergantung dari pertanian.
 
Laju perkembangan pariwisata yang demikian pesat di Bali justru membuat pertanian makin terdesak dan terpinggirkan. Banyak lahan sawah yang subur dicaplok untuk dijadikan hotel, vila atau bangunan.
Selama sepuluh tahun (1997-1998) terjadi penyusutan lahan 10.150 hektar. Kini sektor yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Bali tengah menghadapi ancaman dan tantangan makin serius.
Generasi muda mulai meninggalkan pertanian, peminat menjadi tenaga ahli spesialis pertanian makin menurun. Bahkan, sejumlah dinas pertanian yang diharapkan menampung tenaga kerja mereka justru akan digabung menjadi satu.
Dari sekian banyak masalah pertanian, maka ancaman terbesar yang dihadapi Bali adalah alih fungsi lahan sawah untuk pemanfaatan nonpertanian sebagaimana disampaikan Nyoman Sutawan. Mantan Rektor Unud ini mengingatkan kalau langkah alih fungsi lahan dibiarkan terus tanpa kendali, maka agenda strategis penyelamatan pertanian dari kehancuran tak akan ada manfaatnya.
Syndicate content